Lama tak
mengungkapkan segala pedih peri di hati. Lama mengurung diri dalam penjara yang
kubuat sendiri. Hari ini, kucoba menjelaskan apapun hal-hal yang sulit untuk
dikatakan lewat lisan, kucoba tuliskan hal-hal yang tak bisa kuperbuat karena
peran-peran yang selalu melekat. Yang terkadang menuntutku menjadi orang lain.
Ya, hidup ini
memang rangkaian masalah. Masalah satu selesai, masalah yang lain datang.
Mereka seperti sedang mengantri untuk segera diselesaikan. Aku? Aku sendiri
kadang-kadang tak acuh dengan masalahku sendiri, justru berburu masalah-masalah
lain, tujuannya agar aku bisa melupakan semua masalahku. Semua yang kupikir
–masalah yang memang ditakdirkan menjadi masalah- karena aku sama sekali tidak
tahu apa, bagaimana, dan “dengan siapa” aku melaluinya, syukur dapat
memusnahkannya saja. Aku tidak tahu.
Jadi, aku
melarikan diri, sekian lama dari masalahku sendiri. Hanya Alloh yang Tahu,
Hanya Alloh tempat Mengadu.
Tapi, sepandai-pandainya kita mengubur bangkai,
baunya pasti akan tercium juga. Entahlah siapa yang mengatakan perumpamaan
itu, pandai sekali memang. Masalah diibaratkan sebagai bangkai, yang pastinya
suatu saat akan tercium, suatu saat akan menampakkan diri kembali. Ntah harus
ku apakan, dibuang, dibakar, atau diapakan. Bagaimana menyelesaikannya.
Kadang-kadang, aku ingin berkata “Hanya kau dan Alloh yang Tahu”, tapi
memangnya “kau” ini siapa?
Pada akhirnya,
disinilah aku. Terpenjara dalam raga. Menjadi diriku yang sebenarnya meskipun
–sebenarnya mungkin aku sudah berubah-. Kadang merasa asing. Hampa. Tidak
merasa sedih, tidak merasa bahagia, tidak merindukan apapun, tidak mencemaskan
apapun. Diri ini keberadaannya antara ada dan tiada. Mengambang-ngambang
dibawah kesadaran, dan diatas ketidaksadaran. Kau tau perasaan apa yang paling menyakitkan
di dunia dibandingkan rasa sakit itu sendiri?
Kehampaan
Pelarianku ini
ternyata hanya menimbulkan tumpukkan-tumpukkan bangkai, antara yang lama dan
yang baru. Kenapa? Karena saat kita berlari, tidak mungkin kita terus berlari
tanpa henti, kita pasti akan berhenti, dan dimanapun pada akhirnya
pemberhentian kita, disitulah kita mulai menciptakan masalah baru. Memang,
selalu ada indah di setiap pindah. Tapi, kita tidak akan pernah bisa
menghindari masalah. Kita di dunia, bukan di surga. Hadapi, Resapi, dan
Nikmati. Bismillah!



