Copyright © My Distractions
Design by Dzignine
Selasa, 07 Juni 2016

Kepergian




Lama tak mengungkapkan segala pedih peri di hati. Lama mengurung diri dalam penjara yang kubuat sendiri. Hari ini, kucoba menjelaskan apapun hal-hal yang sulit untuk dikatakan lewat lisan, kucoba tuliskan hal-hal yang tak bisa kuperbuat karena peran-peran yang selalu melekat. Yang terkadang menuntutku menjadi orang lain.

Ya, hidup ini memang rangkaian masalah. Masalah satu selesai, masalah yang lain datang. Mereka seperti sedang mengantri untuk segera diselesaikan. Aku? Aku sendiri kadang-kadang tak acuh dengan masalahku sendiri, justru berburu masalah-masalah lain, tujuannya agar aku bisa melupakan semua masalahku. Semua yang kupikir –masalah yang memang ditakdirkan menjadi masalah- karena aku sama sekali tidak tahu apa, bagaimana, dan “dengan siapa” aku melaluinya, syukur dapat memusnahkannya saja. Aku tidak tahu.

Jadi, aku melarikan diri, sekian lama dari masalahku sendiri. Hanya Alloh yang Tahu, Hanya Alloh tempat Mengadu.

Tapi, sepandai-pandainya kita mengubur bangkai, baunya pasti akan tercium juga. Entahlah siapa yang mengatakan perumpamaan itu, pandai sekali memang. Masalah diibaratkan sebagai bangkai, yang pastinya suatu saat akan tercium, suatu saat akan menampakkan diri kembali. Ntah harus ku apakan, dibuang, dibakar, atau diapakan. Bagaimana menyelesaikannya. Kadang-kadang, aku ingin berkata “Hanya kau dan Alloh yang Tahu”, tapi memangnya “kau” ini siapa?

Pada akhirnya, disinilah aku. Terpenjara dalam raga. Menjadi diriku yang sebenarnya meskipun –sebenarnya mungkin aku sudah berubah-. Kadang merasa asing. Hampa. Tidak merasa sedih, tidak merasa bahagia, tidak merindukan apapun, tidak mencemaskan apapun. Diri ini keberadaannya antara ada dan tiada. Mengambang-ngambang dibawah kesadaran, dan diatas ketidaksadaran. Kau tau perasaan apa yang paling menyakitkan di dunia dibandingkan rasa sakit itu sendiri?

Kehampaan

Pelarianku ini ternyata hanya menimbulkan tumpukkan-tumpukkan bangkai, antara yang lama dan yang baru. Kenapa? Karena saat kita berlari, tidak mungkin kita terus berlari tanpa henti, kita pasti akan berhenti, dan dimanapun pada akhirnya pemberhentian kita, disitulah kita mulai menciptakan masalah baru. Memang, selalu ada indah di setiap pindah. Tapi, kita tidak akan pernah bisa menghindari masalah. Kita di dunia, bukan di surga. Hadapi, Resapi, dan Nikmati. Bismillah!
Sabtu, 19 Maret 2016

Special!



Halo sahabat sekian taun lamanya ^^
Mulai darimana nih? Wkwk. Susah bikin kata-kata puitis buat orang narsis kaya 'ente'. Ngebanyol aja ya? :D

Btw.. Bisa jadi kita sahabat dari zaman-zamannya naif banget lho. SD! Meskipun kau dari sekolah desa seberang sana. Tapi kita seriiiiing banget ketemu. Pasti ingetlah, masa-masa dimana kita selalu manut dibawa kesana kemari ikut kompetisi ini kompetisi itu, dari yang berpuisi sampai yang nge-dai, yang lagi-lagi situ juaranya. Yaaah, aku mah apa atuh. Ckck.

Terus, abis polos-polosnya SD, beranjak ke SMP, apaan tiba-tiba masuk kelas A bareng 'ente' lagi. Ketemu lagi. Nasib kita disini ngga jauh beda dari SD, bedanya aku sendiri lebih menikmati masa ini itunya es-em-pe. Nge-DP bareng yang imbasnya sering pake seragam pramuka yang beda dari yang lain (bikin kita tambah keliatan eksis, padahal? :D) Ditambah lagi, amanah yang ngga kalah nge-hitznya. Aku cuma mau bilang, sabar ya te, jadi yang paling 'tua' di osis emang harus kuat! Ngga boleh pingsan lhoo, :p

Habis itu..apa ya? Mau bahas es MA? Oalah, ini mah zaman klimaks-klimaksnya. Hijrah ke Tegal. Suasana baru, hidup baru. Amazing banget! Meskipun pada akhirnya, kita merasa 'beda' dari segi passion. Tapi, tidak mengubah kenyataan bahwa kita ditakdirkan bertemu dari masih unyu sampai nanti selamanya.

Finally, High School Life usai, kita akhirnya berpisah setelah acara paling sakral sedunia itu. Graduation day. Kau di ujung utara sana, aku masih di kampung halamanku smpai saat ini. Dari utara sana untuk kmudian kmbali lagi ke tempat yang lagi-lagi penuh kenangan. Tegal. Dan aku masih disini. Menatap jam dinding, mendengar detik demi detik, menunggu waktu yang paling tepat untuk mengucap -Selamat Menempuh Umur yang Baru. Barakallah fii umrik-Semoga di setiap segmen waktu yang lebih kecil dari detik, kau selalu bisa tersenyum. Semoga hanya mendung di langit yang meluruh menjadi hujan, bukan di hatimu.

Terakhir, seperti dalam foto ini, biarlah aku ini ngga keliatan, tapi sebenernya disampingmu :'D