Kata
yang aku sendiri benar-benar jengah mendengarnya. Kata yang paling
menjengkelkan. Ingin sekali aku musnahkan. Sayangnya, tidak akan ada kata
“rajin”. Tidak akan ada kata “tekun”. Tidak akan ada kata semenyenangkan
“semangat!”, jika tidak ada kata itu. Iya, kan? Maka aku berpikir untuk
menggantinya. Mengapa kita tidak mengatakan “aku sedang membangkitkan semangat”
daripada “aku malas”? Bukankah itu lebih baik, lebih positif?
Malas
sebuah rasa
Iya,
aku juga pernah merasakannya. Tapi, kali ini aku benar-benar membenci perasaan
ini. Karena saat aku mengatakannya tiba-tiba saja seluruh hawa negatif merasukiku.
Hawa negatif yang siap menyerang siapapun yang berada di dekatku. Dan saat aku
sadar telah mengatakannya, aku benar-benar menyesal! Sama halnya ketika aku
menguap dan mengatakan “aku ngantuk”. Teman yang melihatku entah mengapa
langsung ikut menguap dan mengatakan “aku juga”. Rrrrh, aku benar-benar
menyesal! Menyesal telah menularkan virus pada temanku sendiri. Maka aku
berpikir, aku tidak akan mengatakannya lagi. Sebuah kata bahkan bisa menjadi virus
bagi yang mengatakannya apalagi yang mendengar. Ah, aku merasa sedang merokok. Meracuni
tubuhku sendiri dan menebarkannya pada orang lain. Astaghfirulloh.. Tidak,
tidak. Kita tidak boleh mengatakannya lagi!
Malas
sebuah hama
Bohongilah
diri kita sendiri, pungkiri saja perasaan itu. Cepat katakan, “tidak, aku tidak
sedang malas. Aku hanya tidak bersemangat. Aku hanya perlu istirahat. Aku pasti
akan bangun dan bersemangat”. Otak kita selalu ampuh memakan sugesti. Jadi,
dengan hanya mengatakan hal-hal yang baik, energi-energi baik pun insyaAllah
akan menempel pada diri kita. Jadi sahabatku yang cantik, kirimkanlah
sinyal-sinyal yang positif, katakanlah hal-hal yang baik. Malas itu tidak untuk
dirawat, tapi dibabat! Niat itu tidak untuk ditunggu, tapi diciptakan! Bukankah
Allah membenci hambaNya yang pemalas? Jika kita memiliki keinginan yang besar,
maka usaha kita juga harus sama besarnya dengan keinginan kita. Bagaimana
mungkin kita ingin memetik sebuah bunga
yang indah jika kita bahkan malas menyiraminya? Allah Maha Mengetahui apa-apa
yang kita kerjakan. Sahabatku, buah yang kita petik adalah benih yang sudah
kita tanam, kan? Semoga kita termasuk orang-orang yang akan memetik buah yang manis.
Kelak. Aamiin..:)








