Copyright © My Distractions
Design by Dzignine
Sabtu, 19 Maret 2016

Special!



Halo sahabat sekian taun lamanya ^^
Mulai darimana nih? Wkwk. Susah bikin kata-kata puitis buat orang narsis kaya 'ente'. Ngebanyol aja ya? :D

Btw.. Bisa jadi kita sahabat dari zaman-zamannya naif banget lho. SD! Meskipun kau dari sekolah desa seberang sana. Tapi kita seriiiiing banget ketemu. Pasti ingetlah, masa-masa dimana kita selalu manut dibawa kesana kemari ikut kompetisi ini kompetisi itu, dari yang berpuisi sampai yang nge-dai, yang lagi-lagi situ juaranya. Yaaah, aku mah apa atuh. Ckck.

Terus, abis polos-polosnya SD, beranjak ke SMP, apaan tiba-tiba masuk kelas A bareng 'ente' lagi. Ketemu lagi. Nasib kita disini ngga jauh beda dari SD, bedanya aku sendiri lebih menikmati masa ini itunya es-em-pe. Nge-DP bareng yang imbasnya sering pake seragam pramuka yang beda dari yang lain (bikin kita tambah keliatan eksis, padahal? :D) Ditambah lagi, amanah yang ngga kalah nge-hitznya. Aku cuma mau bilang, sabar ya te, jadi yang paling 'tua' di osis emang harus kuat! Ngga boleh pingsan lhoo, :p

Habis itu..apa ya? Mau bahas es MA? Oalah, ini mah zaman klimaks-klimaksnya. Hijrah ke Tegal. Suasana baru, hidup baru. Amazing banget! Meskipun pada akhirnya, kita merasa 'beda' dari segi passion. Tapi, tidak mengubah kenyataan bahwa kita ditakdirkan bertemu dari masih unyu sampai nanti selamanya.

Finally, High School Life usai, kita akhirnya berpisah setelah acara paling sakral sedunia itu. Graduation day. Kau di ujung utara sana, aku masih di kampung halamanku smpai saat ini. Dari utara sana untuk kmudian kmbali lagi ke tempat yang lagi-lagi penuh kenangan. Tegal. Dan aku masih disini. Menatap jam dinding, mendengar detik demi detik, menunggu waktu yang paling tepat untuk mengucap -Selamat Menempuh Umur yang Baru. Barakallah fii umrik-Semoga di setiap segmen waktu yang lebih kecil dari detik, kau selalu bisa tersenyum. Semoga hanya mendung di langit yang meluruh menjadi hujan, bukan di hatimu.

Terakhir, seperti dalam foto ini, biarlah aku ini ngga keliatan, tapi sebenernya disampingmu :'D
Kamis, 03 Desember 2015

Persahabatan Itu..


Persahabatan itu ibarat dua huruf g dalam kata "anggur", jika salah satunya dihilangkan maka selesai sudah, kata tersebut sudah tidak lagi bermakna. Hanya sebuah tulisan tak berarti. Sama seperti aku dan kamu, seringkali kita berpisah demi memperoleh jati diri yang lain, tapi aku akan selalu kembali kedalam kata "anggur". Selalu seperti itu.

Persahabatan itu seperti saat kita menulis angka 8, kemanapun tinta itu ditorehkan, pada akhirnya kedua sumbu akan bertemu saling terhubung Seperti aku dan kamu, yang betapapun kita berusaha saling menghindar, pada akhirnya kita akan saling menyapa lagi, bercanda lagi, tertawa lagi. Persis seperti itu.

Persahabatan itu persis seperti saat kita bercermin. If it's not you in the mirror, then it's not me. Kamu adalah aku, dan aku adalah kamu. Kemanapun kita melangkah, bayanganmu akan selalu mengikutiku. Jika itu bukan kamu, maka itu bukan aku.

Persahabatan itu sama seperti sebuah rumah, sejauh apapun kita berjalan, pada akhirnya kita akan pulang, kembali ke rumah masing-masing. Sama seperti aku dan kamu, saat mentari nampak terlalu terik, saat hujan dipenuhi petir, saat angin tidak lagi berhembus lembut, kemana lagi tujuanku kalau bukan rumah?

Persahabatan adalah cinta yang tidak pernah ada ujungnya. Tidak akan ada kata "putus", tidak akan ada istilah "mantan sahabat", apalagi "gebetan sahabat". Persahabatan itu tercipta seperti air..kita dipertemukan dalam satu arus, kemudian terus saja melaju tanpa tahu kemana akan bermuara, dan rintangan-rintangan apa yang akan kita lalui. Kita hanya menjalaninya tanpa ada kesepakatan, ikatan, apalagi perjanjian. Tidak ada istilah-istilah "hari jadian", yang ada setiap hari adalah hari yang spesial. Setiap hari adalah hari kasih sayang..

Semoga kelak kita bermuara di surgaNya.. Ana uhibbuki fillah {}
Sabtu, 28 November 2015

Filosofi Malas


Malas sebuah kata
Kata yang aku sendiri benar-benar jengah mendengarnya. Kata yang paling menjengkelkan. Ingin sekali aku musnahkan. Sayangnya, tidak akan ada kata “rajin”. Tidak akan ada kata “tekun”. Tidak akan ada kata semenyenangkan “semangat!”, jika tidak ada kata itu. Iya, kan? Maka aku berpikir untuk menggantinya. Mengapa kita tidak mengatakan “aku sedang membangkitkan semangat” daripada “aku malas”? Bukankah itu lebih baik, lebih positif?

Malas sebuah rasa
Iya, aku juga pernah merasakannya. Tapi, kali ini aku benar-benar membenci perasaan ini. Karena saat aku mengatakannya tiba-tiba saja seluruh hawa negatif merasukiku. Hawa negatif yang siap menyerang siapapun yang berada di dekatku. Dan saat aku sadar telah mengatakannya, aku benar-benar menyesal! Sama halnya ketika aku menguap dan mengatakan “aku ngantuk”. Teman yang melihatku entah mengapa langsung ikut menguap dan mengatakan “aku juga”. Rrrrh, aku benar-benar menyesal! Menyesal telah menularkan virus pada temanku sendiri. Maka aku berpikir, aku tidak akan mengatakannya lagi. Sebuah kata bahkan bisa menjadi virus bagi yang mengatakannya apalagi yang mendengar. Ah, aku merasa sedang merokok. Meracuni tubuhku sendiri dan menebarkannya pada orang lain. Astaghfirulloh.. Tidak, tidak. Kita tidak boleh mengatakannya lagi!

Malas sebuah hama
Bohongilah diri kita sendiri, pungkiri saja perasaan itu. Cepat katakan, “tidak, aku tidak sedang malas. Aku hanya tidak bersemangat. Aku hanya perlu istirahat. Aku pasti akan bangun dan bersemangat”. Otak kita selalu ampuh memakan sugesti. Jadi, dengan hanya mengatakan hal-hal yang baik, energi-energi baik pun insyaAllah akan menempel pada diri kita. Jadi sahabatku yang cantik, kirimkanlah sinyal-sinyal yang positif, katakanlah hal-hal yang baik. Malas itu tidak untuk dirawat, tapi dibabat! Niat itu tidak untuk ditunggu, tapi diciptakan! Bukankah Allah membenci hambaNya yang pemalas? Jika kita memiliki keinginan yang besar, maka usaha kita juga harus sama besarnya dengan keinginan kita. Bagaimana mungkin kita ingin  memetik sebuah bunga yang indah jika kita bahkan malas menyiraminya? Allah Maha Mengetahui apa-apa yang kita kerjakan. Sahabatku, buah yang kita petik adalah benih yang sudah kita tanam, kan? Semoga kita termasuk orang-orang yang akan memetik buah yang manis. Kelak. Aamiin..:)
Jumat, 27 November 2015

Hey, Don’t You Know Who Am I?



Menjelaskan. Pernahkah terbesit diantara teman-teman perasaan ingin diakui eksistensinya? Ingin dimengerti?

Kita semua pasti memiliki status dan peran kita yang jumlahnya mungkin tak bisa dihitung. Diantara status-status itu ada yang lebih didominankan daripada yang lain. Ada yang lebih mengutamakan statusnya sebagai “anak”, sebagai “mahasiswa berprestasi”, sebagai “staff organisasi A”, atau bahkan sebagai “sahabat si B”, de el el. Semua status, jabatan, atau label yang melekat pada diri kita selalu menuntut peran yang harus kita lakukan, konsekuensi apa yang harus kita ambil atas peran itu. Suatu ketika, kita mungkin pernah merasa sudah melakukan berbagai hal untuk memerankan konsekuensi dari status tersebut, tapi orang-orang tidak menyadari itu.

Terus, apa kita harus menjelaskan semua hal yang udah kita lalui? Kalo kita itu adalah Ketua X yang udah melakukan bla bla bla, kalo kita adalah mahasiswa top sehingga memperoleh bla bla bla, kalo kita punya peran-peran penting di banyak hal, berbuat ini berbuat itu? Buat apa? Untuk diakui keberadaannya? Dibilang baik dan bertanggungjawab? Apakah itu bentuk aktualisasi diri yang sebenarnya?

Apa artinya sebuah “pengakuan”, apa artinya sebuah “jabatan”, kalo kita sendiri tak benar-benar mengerti urgensi dan esensi dari status tersebut. Gelar S.Pd, S.Psi, S.H, de el el ini buat apa kalo kita sendiri tidak benar-benar tau konsekuensi dari gelar tersebut? Ketimbang menanyakan pada orang lain “Don’t you know who am I?" atau “Do you know what I’ve done?”, ketimbang menyatakan “This is me!”, kenapa kita tidak bertanya pada diri sendiri “what should I do?”, “what have I done? Is that right?”

Jadi, kenapa kita tidak mengubah mindset bahwa yang semestinya kita pikirkan adalah melakukan yang terbaik, apapun tanggung jawab yang melekat pada kita, semua jabatan yang udah kita pilih. Dan..yang paling esensial yaitu niatkan semua karena Allah, bukan karena karena yang lain yang berpotensi membuat kita sakit hati.

"Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan". (Al-Furqan : 23)
Jangan sampai semua keletihan-keletihan kita, semu tetes-tetes keringat yang sudah kita korbankan menjadi amalan yang sia-sia karena niat awal yang keliru. Wallahu a'lam.

Jadi, kawan. Kita tak perlu mempedulikan orang yang mengatakan hal-hal yang berkebalikan dari diri kita, yang berbeda jauh dari kenyataannya. Tak perlu sedih dengan orang-orang yang tidak mengatakan apa-apa tentang diri kita, tak perlu. Lebih baik tidak dianggap untuk hal yang sudah kita perbuat daripada dianggap melakukan hal yang tidak kita perbuat. Akan ada skenario dimana Allah sendirilah yang menunjukkan "who are you" tanpa perlu kita jelaskan. Allah always be with you guys, will be know you no matter what, I think this is enough.. Keep smile, be patient and hamasah! :D


Kamis, 26 November 2015

Thanks to Be My Sweet Home






Berawal dari sebuah pesan dipenuhi emoticon smile yang intinya mengatakan "ayo gabung bersama kami (asisten perpustakaan) yang kece abis", aku mengenal dunia ini. Dunia yang kupikir dengan label "perpustakaan" menjadikannya membosankan. Beruntung aku memilih untuk menerima tawaran dari pesan tersebut. Here am I! Aku punya rumah baru. It's a sweet home. I'm absolutely happy. Disini aku hanya mengenal tertawa dan lelah. Selebihnya, hanya permusuhan-permusuhan ala anak kecil yang sedang rebutan permen.

Kadang kami merasa jadi alien diantara para manusia. Punya bahasa-bahasa konyol yang cuma kami sendiri yang tau, selalu punya bahan pembicaraan yang lagi-lagi cuma kami yang mudeng. Kami tak mengenal kata spaneng. Sesulit apapun kerjaan seorang asisten laboratorium yang bekerja di perpustakaan, kami selalu bisa tertawa. Selelah apapun pekerjaan ini, kami tak pernah menganggapnya sebagai suatu "kerjaan", seperti sebuah "permainan", kami hanya senang melakukannya.

Perpustakaan adalah rumah kedua kami. Kami sendiri hanya sebuah keluarga dalam lingkup persaudaraan, tanpa ada strata, kami semua hanya saling mengisi dan melengkapi. Kami punya satu tujuan dan tanggung jawab yang kita pikul bersama-sama. Meski Mba Ara adalah ketua kami yang paling cantik dan baik. Nampaknya dia sangat beruntung punya anggota yang keren-keren kayak kami :p

Hidup ini memang tidak mudah. Sudah pasti kita pernah menangis dan terpuruk. Aku bersyukur, dalam perantauan ini, dalam dunia perkuliahan yang dipenuhi dengan konflik yang kompleks, aku masih punya rumah untukku berpulang. Kuucapkan terima kasih atas segala hal-hal kecil yang selama ini telah terjadi diantara aku dan kalian, semua hal sepele yang sebenarnya tak ternilai. Teramat berharga memiliki kalian. Thanks for always be my sweet home {}

Rabu, 25 November 2015

What the Meaning of Achievement?


Prestasi. Sebuah kata yang sering sekali digembar-gemborkan dimanapun dan kapanpun. Para akademisi - mulai dari siswa biasa hingga mahanya-siswa- selalu menjadikan kata "prestasi" sebagai topik utama dalam setiap pembahasan, seolah hal ini benar-benar amat urgent. Sebenarnya apa sih prestasi itu? Apakah prestasi itu hanya soal menang dalam lomba-lomba, juara 1 di kelas, jadi siswa teladan atau mahasiswa berprestasi di perkuliahan? Apa hanya itu?

Sungguh naif jika kita menilai prestasi hanya sebatas sesuatu yang dapat dilihat dengan lugas dan gamblang. Bagaimana nasib orang-orang antimainstream yang mempunyai keahlian-keahlian unik yang bahkan tidak ada lomba yang bisa menampungnya? Apakah mereka juga harus menang lomba terlebih dahulu baru bisa dikatakan berprestasi? Atau mungkin selama ini pemahaman kita saja yang terlalu sempit sehingga menilai prestasi hanya soal materi, hanya soal piala, piagam, dan uang (?).

Iya, dari kecil kita terdoktrin untuk menganggap prestasi sebagai suatu keharusan. Sayangnya, doktrin tersebut terlalu dangkal, tak jauh-jauh dari kata juara 1 -piala dan piagam- Kalau prestasi hanya menyoal itu maka kata itu lama-kelamaan sudah tidak asyik lagi untuk dibicarakan, kawan. Orang yang mendapatkan hal-hal semacam itu sudah terlalu banyak, bukan? Orang pinter, orang yang memiliki inteligensi tinggi, dan orang-orang lain yang diberikan gifted oleh Allah-mungkin dengan sedikit usaha saja mereka dapat meraih prestasi tersebut. Lalu, apakah benar orang-orang dengan inteligensi biasa-biasa saja seperti kita tidak memiliki kesempatan untuk berprestasi? I'm definitely say "that's wrong" ! Aku percaya bahwa setiap manusia terlahir unik dengan sisi keluarbiasaan masing-masing yang tidak dimiliki oleh orang lain. It isn't just about how big your IQ, guys!


Kawanku, makna prestasi itu sungguh luas. Bersyukurlah dan banggalah pada apa yang sudah kita capai hingga detik ini. Allah menciptakan kita untuk tujuan tertentu, bukan dengan kesia-siaan.
"Apakah kalian mengira bahwasanya Kami menciptakan kalian dengan sia-sia dan kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maha tinggi Allah Raja Yang Maha Benar. Tiada sesembahan - yang benar - kecuali Dia, Rabb Yang memiliki Arsy yang mulia." (Q.S Al-Mu'minun : 115-116)

Allah memberikan kita banyak sekali kesempatan untuk berbuat baik dengan segala atribut-atribut yang melekat pada kita, jadi mengapa kita menyusahkan diri kita sendiri demi meraih segala kriteria-kriteria "berprestasi" menurut orang lain? Jika kita hanya mengejar kemenangan-kemenangan yang sifatnya duniawi seperti itu, lalu sudahkah kita mengetahui hakikat hidup ini? Jangan-jangan kita lupa makna berprestasi di mata Allah sendiri.
Mari kita lihat, makna kemenangan, kesuksesan, dan prestasi menurut Allah.
"Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya ; dan itulah kemenangan yang besar." (Q.S An-Nisaa' : 13)
Jadi, kita tidak juara 1 pun tidak apa-apa, tidak mendapat pujian dari orang-orang juga bukanlah hal yang penting. Justru yang harus kita khawatirkan adalah kok saat kita ibadah ingin cepat-cepat selesai, kok membaca Al-Qur'an  sedikit sudah menguap ngantuk. Dan segala kok-kok-an lainnya.

Mengejar prestasi di dunia itu sah-sah saja. Allah juga berfirman tentang perintah mengerjakan urusan akhirat yang diimbangi dengan dunia dalam Q.S Al-Qashas ayat 77 :
"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagiaanmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan."
Cari tahulah, apa yang kita sukai, apa yang membuat kita bahagia, apa yang membuat kita seakan hidup selamanya di dunia. Rasulullah SAW bersabda, "bekerjalan untuk duniamu seakan-akan kamu akan hidup selamanya dan bekerjalan untuk akhiratmu seakan-akan kamu akan mati besok."

FYI, orang yang berprestasi adalah orang yang konsisten dalam menjalani aktivitas yang ia kuasai, hingga ia bisa menjadi pembeda diantara yang lain. Orang yang berprestasi ibarat sebutir berlian dalam batang-batang emas. Jika menjadi seorang dokter itu sudah biasa, maka menjadi dokter yang tulus dan ikhlas dalam melayani pasiennya adalah sebuah prestasi. Jika menjadi seorang guru memang sudah terlalu banyak, maka menjadi guru yang dirindukan oleh muridnya adalah prestasi. Jika seorang pembicara-pembicara terkenal seperti Mario Teguh itu sudah tidak bisa dihitung lagi, maka menjadi pendengar yang baik adalah sebuah prestasi. Dan ada banyak hal-hal lain yang sering kita remehkan, tertutupi oleh pandangan klise manusia.

Jadi, masihkah kita berpikir bahwa prestasi itu hanya soal -piala dan medali-? Karna jika kita terus-terus berpandangan semacam itu, jangan-jangan kita melupakan jati diri kita yang sebenarnya. Jangan-jangan tanpa sengaja kita telah mengubur bakat-bakat langka kita demi mendapat pengakuan hebat menurut orang pada umumnya. Jangan-jangan kita LUPA bahwa hakikat sebuah kebahagiaan terletak di hati.

Kawanku~ sungguh miris jika kita sampai terjebak dalam doktrinasi tersebut. So, mulai dari sekarang, tegakkanlah tubuhmu, melangkahlah dengan percaya diri, teriakan pada dirimu dalam pantulan cermin bahwa "kau bisa dan kau keren!" Asalkan kita tau apa yang kita mau, prestasi itu akan selalu mengikuti. Orang-orang akan mengenal kita, tanpa perlu mengkoar-koarkan apa yang sudah kita capai. Kuncinya adalah : sukai dan nikmati! Semengat kawan, I'm proud of you all! :)
Selasa, 24 November 2015

Sajak Kerinduan


Aku tak tau kapan tepatnya, aku merasakan kehadirannya.
Entah semenjak aku lahir, atau bahkan saat aku masih di rahim ibuku. Aku tak tau.
Yang aku tau, ia adalah teman masa kecilku.
Ah, sobat karib lebih tepatnya.
'Cause he always beside me no matter what.
My best listener and teacher.

Dialah yang mengenalkan Allah padaku.
Mengajariku makna hidup.
Menggambarkan dunia, seolah dunia hanya berada dalam genggamannya.
Dialah guruku sepanjang masa.
Aku yang sering dia hebat-hebatkan.
Menerbangkanku seolah aku memang sehebat itu.
Sedangkan dia sendiri selalu merasa rendah dihadapanku.

Saat mataku mulai kehabisan cahaya untuk melihat dunia.
Dia menjadi mataku.
Saat gerimis perlahan-lahan menjadi hujan lebat.
Dia menjadi atap bagiku.
Saat kakiku mulai gentar untuk melangkah.
Dia pinjamkan kakinya untukku.

Dunia zaman dulu dan sekarang tak jauh beda.
Masih menyeramkan. Bedanya, kini aku tanpa kehadirannya.
Dewasa ini sungguh memberatkanku.
Aku harus tetap menjaga kelopak mataku
Untuk bersiap siaga sepanjang waktu.
Bersiap melawan segala bahaya.
Walau pada akhirnya, aku hanya bisa menghindar, bukan melawan.
Aku butuh sosoknya.

Dulu sewaktu aku kecil, rengekanku hanya soal balon dan permen.

Aku yang sering merajuk minta ini itu.
Dia yang dengan sabar menurutiku.
Hingga pada akhirnya, saat aku tak bisa melihatnya lagi.
Aku menjadi diriku yang lain.
Diriku yang entah semakin baik atau semakin buruk.
Aku hanya ingin membuatnya bangga dihadapan Allah.
Dihadapan para penghuni surga yang lain.

Bahagikah kau disana?

Wahai teman yang selalu kurindukan~