Copyright © My Distractions
Design by Dzignine
Sabtu, 28 November 2015

Filosofi Malas


Malas sebuah kata
Kata yang aku sendiri benar-benar jengah mendengarnya. Kata yang paling menjengkelkan. Ingin sekali aku musnahkan. Sayangnya, tidak akan ada kata “rajin”. Tidak akan ada kata “tekun”. Tidak akan ada kata semenyenangkan “semangat!”, jika tidak ada kata itu. Iya, kan? Maka aku berpikir untuk menggantinya. Mengapa kita tidak mengatakan “aku sedang membangkitkan semangat” daripada “aku malas”? Bukankah itu lebih baik, lebih positif?

Malas sebuah rasa
Iya, aku juga pernah merasakannya. Tapi, kali ini aku benar-benar membenci perasaan ini. Karena saat aku mengatakannya tiba-tiba saja seluruh hawa negatif merasukiku. Hawa negatif yang siap menyerang siapapun yang berada di dekatku. Dan saat aku sadar telah mengatakannya, aku benar-benar menyesal! Sama halnya ketika aku menguap dan mengatakan “aku ngantuk”. Teman yang melihatku entah mengapa langsung ikut menguap dan mengatakan “aku juga”. Rrrrh, aku benar-benar menyesal! Menyesal telah menularkan virus pada temanku sendiri. Maka aku berpikir, aku tidak akan mengatakannya lagi. Sebuah kata bahkan bisa menjadi virus bagi yang mengatakannya apalagi yang mendengar. Ah, aku merasa sedang merokok. Meracuni tubuhku sendiri dan menebarkannya pada orang lain. Astaghfirulloh.. Tidak, tidak. Kita tidak boleh mengatakannya lagi!

Malas sebuah hama
Bohongilah diri kita sendiri, pungkiri saja perasaan itu. Cepat katakan, “tidak, aku tidak sedang malas. Aku hanya tidak bersemangat. Aku hanya perlu istirahat. Aku pasti akan bangun dan bersemangat”. Otak kita selalu ampuh memakan sugesti. Jadi, dengan hanya mengatakan hal-hal yang baik, energi-energi baik pun insyaAllah akan menempel pada diri kita. Jadi sahabatku yang cantik, kirimkanlah sinyal-sinyal yang positif, katakanlah hal-hal yang baik. Malas itu tidak untuk dirawat, tapi dibabat! Niat itu tidak untuk ditunggu, tapi diciptakan! Bukankah Allah membenci hambaNya yang pemalas? Jika kita memiliki keinginan yang besar, maka usaha kita juga harus sama besarnya dengan keinginan kita. Bagaimana mungkin kita ingin  memetik sebuah bunga yang indah jika kita bahkan malas menyiraminya? Allah Maha Mengetahui apa-apa yang kita kerjakan. Sahabatku, buah yang kita petik adalah benih yang sudah kita tanam, kan? Semoga kita termasuk orang-orang yang akan memetik buah yang manis. Kelak. Aamiin..:)

0 komentar:

Posting Komentar