Copyright © My Distractions
Design by Dzignine
Jumat, 27 November 2015

Hey, Don’t You Know Who Am I?



Menjelaskan. Pernahkah terbesit diantara teman-teman perasaan ingin diakui eksistensinya? Ingin dimengerti?

Kita semua pasti memiliki status dan peran kita yang jumlahnya mungkin tak bisa dihitung. Diantara status-status itu ada yang lebih didominankan daripada yang lain. Ada yang lebih mengutamakan statusnya sebagai “anak”, sebagai “mahasiswa berprestasi”, sebagai “staff organisasi A”, atau bahkan sebagai “sahabat si B”, de el el. Semua status, jabatan, atau label yang melekat pada diri kita selalu menuntut peran yang harus kita lakukan, konsekuensi apa yang harus kita ambil atas peran itu. Suatu ketika, kita mungkin pernah merasa sudah melakukan berbagai hal untuk memerankan konsekuensi dari status tersebut, tapi orang-orang tidak menyadari itu.

Terus, apa kita harus menjelaskan semua hal yang udah kita lalui? Kalo kita itu adalah Ketua X yang udah melakukan bla bla bla, kalo kita adalah mahasiswa top sehingga memperoleh bla bla bla, kalo kita punya peran-peran penting di banyak hal, berbuat ini berbuat itu? Buat apa? Untuk diakui keberadaannya? Dibilang baik dan bertanggungjawab? Apakah itu bentuk aktualisasi diri yang sebenarnya?

Apa artinya sebuah “pengakuan”, apa artinya sebuah “jabatan”, kalo kita sendiri tak benar-benar mengerti urgensi dan esensi dari status tersebut. Gelar S.Pd, S.Psi, S.H, de el el ini buat apa kalo kita sendiri tidak benar-benar tau konsekuensi dari gelar tersebut? Ketimbang menanyakan pada orang lain “Don’t you know who am I?" atau “Do you know what I’ve done?”, ketimbang menyatakan “This is me!”, kenapa kita tidak bertanya pada diri sendiri “what should I do?”, “what have I done? Is that right?”

Jadi, kenapa kita tidak mengubah mindset bahwa yang semestinya kita pikirkan adalah melakukan yang terbaik, apapun tanggung jawab yang melekat pada kita, semua jabatan yang udah kita pilih. Dan..yang paling esensial yaitu niatkan semua karena Allah, bukan karena karena yang lain yang berpotensi membuat kita sakit hati.

"Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan". (Al-Furqan : 23)
Jangan sampai semua keletihan-keletihan kita, semu tetes-tetes keringat yang sudah kita korbankan menjadi amalan yang sia-sia karena niat awal yang keliru. Wallahu a'lam.

Jadi, kawan. Kita tak perlu mempedulikan orang yang mengatakan hal-hal yang berkebalikan dari diri kita, yang berbeda jauh dari kenyataannya. Tak perlu sedih dengan orang-orang yang tidak mengatakan apa-apa tentang diri kita, tak perlu. Lebih baik tidak dianggap untuk hal yang sudah kita perbuat daripada dianggap melakukan hal yang tidak kita perbuat. Akan ada skenario dimana Allah sendirilah yang menunjukkan "who are you" tanpa perlu kita jelaskan. Allah always be with you guys, will be know you no matter what, I think this is enough.. Keep smile, be patient and hamasah! :D


0 komentar:

Posting Komentar