Menjelaskan. Pernahkah terbesit diantara teman-teman
perasaan ingin diakui eksistensinya? Ingin dimengerti?
Kita semua pasti memiliki status dan peran kita yang jumlahnya mungkin tak bisa dihitung. Diantara status-status itu ada yang lebih didominankan daripada yang lain. Ada yang lebih mengutamakan statusnya sebagai “anak”, sebagai “mahasiswa berprestasi”, sebagai “staff organisasi A”, atau bahkan sebagai “sahabat si B”, de el el. Semua status, jabatan, atau label yang melekat pada diri kita selalu menuntut peran yang harus kita lakukan, konsekuensi apa yang harus kita ambil atas peran itu. Suatu ketika, kita mungkin pernah merasa sudah melakukan berbagai hal untuk memerankan konsekuensi dari status tersebut, tapi orang-orang tidak menyadari itu.
Terus, apa kita harus menjelaskan semua hal yang udah kita
lalui? Kalo kita itu adalah Ketua X yang udah melakukan bla bla bla, kalo kita
adalah mahasiswa top sehingga memperoleh bla bla bla, kalo kita punya
peran-peran penting di banyak hal, berbuat ini berbuat itu? Buat apa? Untuk
diakui keberadaannya? Dibilang baik dan bertanggungjawab? Apakah itu bentuk
aktualisasi diri yang sebenarnya?
Apa artinya sebuah “pengakuan”, apa artinya sebuah
“jabatan”, kalo kita sendiri tak benar-benar mengerti urgensi dan esensi dari
status tersebut. Gelar S.Pd, S.Psi, S.H, de el el ini buat apa kalo kita
sendiri tidak benar-benar tau konsekuensi dari gelar tersebut? Ketimbang
menanyakan pada orang lain “Don’t you know who am I?" atau “Do
you know what I’ve done?”, ketimbang menyatakan “This is me!”,
kenapa kita tidak bertanya pada diri sendiri “what should I do?”, “what
have I done? Is that right?”
Jadi, kenapa kita tidak mengubah mindset bahwa
yang semestinya kita pikirkan adalah melakukan yang terbaik, apapun tanggung
jawab yang melekat pada kita, semua jabatan yang udah kita pilih. Dan..yang
paling esensial yaitu niatkan semua karena Allah, bukan karena karena yang lain
yang berpotensi membuat kita sakit hati.
"Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan,
lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan". (Al-Furqan :
23)
Jangan sampai semua keletihan-keletihan kita, semu
tetes-tetes keringat yang sudah kita korbankan menjadi amalan yang sia-sia
karena niat awal yang keliru. Wallahu a'lam.



0 komentar:
Posting Komentar